Komisi VII Desak ESDM Percepat Pembangunan Jaringan Gas Secara Nasional

Ekonomi189 views

 

Jakarta, LiniPost – Anggota Komisi VII DPR RI Mulyanto kecewa dengan laporan Kementerian ESDM tentang realisasi target pembangunan jaringan gas yang baru mencapai 16,5 persen dari yang ditentukan.

Mulyanto pun mendesak Kementerian ESDM untuk mempercepat pembangunan jaringan gas (jargas) secara nasional agar program substitusi impor LPG dengan gas alam dapat terlaksana segera.

ads

“Percepatan pembangunan jargas ini sangat penting karena dapat menekan defisit transaksi berjalan dan mengokohkan ketahanan energi nasional,” kata Mulyanto.

Mulyanto mengungkapkan, target Pemerintah di tahun 2024 adalah sebesar 4 juta sambungan rumah tangga jaringan gas, sementara realisasi sampai dengan tahun 2020, baru mencapai total sebesar 660 ribu SR atau sekitar 16,5 persennya.

“Masih sangat jauh dari target, padahal waktu yang tersisa tinggal 3 tahun lagi,” ujar Wakil Ketua Fraksi PKS Bidang Industri dan Pembangunan ini.

Mulyanto menilai program substitusi LPG dengan gas alam ini sangat penting untuk dilaksanakan karena secara langsung akan menghemat devisa negara.

“Menurut hitungan Perusahaan Gas Negara (PGN), dengan memanfaatkan gas alam, negara dapat menghemat anggaran sebesar Rp3,3 triliun/tahun,” ucapnya.

Mulyanto berpendapat, hal itu disebabkan harga gas alam lebih murah dan cadangannya berlimpah, sedangkan di sisi masyarakat, pemanfaatan gas alam ini dapat mengurangi pengeluaran secara total hingga Rp0,3 triliun/tahun.

“Baru-baru ini Kementerian ESDM mengumumkan rencana substitusi LPG dengan Dimethyl Ether (DME), sebagai hasil gasifikasi batubara berkalori rendah dalam rangka mengurangi ketergantungan pada impor LPG,” tuturnya.

Sepanjang menguntungkan dan sesuai dengan keekonomiannya, lanjut Mulyanto, upaya komplementatif DME ini bagus-bagus saja untuk dikembangkan. Yang penting, berbagai target kinerja Pemerintah itu dapat tercapai.

Legislator asal Dapil Banten 3 ini mengingatkan, Pemerintah harus fokus pada pilihan strategi yang telah diambil untuk mencapai target substitusi impor LPG ini.

“Jangan terlalu banyak wacana, sehingga capaian targetnya minim,” tandasnya.

Untuk diketahui berdasarkan data Kementerian ESDM yang dihimpun dari Neraca Gas Bumi Indonesia 2018-2027, per Januari 2017 Indonesia memiliki cadangan gas bumi sebanyak 142,72 TSCF atau setara dengan 1,53 persen cadangan gas bumi di dunia.

Dari jumlah tersebut, 100,36 TSCF merupakan cadangan gas terbukti dan 42,36 TSCF merupakan cadangan gas potensial.

Kementerian ESDM juga mencatat, lifting gas bumi Indonesia akan mengalami fluktuasi hingga mencapai puncaknya di tahun 2022 sebesar 8.661 MMSCFD, kemudian mengalami penurunan menjadi 8.048 MMSCFD di tahun 2027 nanti.

Adapun pada tahun 2019 lalu, lifting gas bumi Indonesia berada di level 1.060 MBOEPD. Sedangkan di tahun ini pemerintah mematok target lifting gas bumi sebesar 1.191 MBOEPD.

“Cadangan gas bumi di Indonesia pada dasarnya masih sangat melimpah. Belum lagi bila dilaksanakan eksplorasi baru, angka-angka ini diyakini akan meningkat,” pungkas Mulyanto. (Hartono)