Putusan Mahkamah Agung RI Terkait Penipuan Terkesan Diabaikan Kejari Gunung Sitoli

Gunungsitoli, LiniPost – Kejaksaan Negeri Gunung Sitoli terkesan mengabaikan Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia (MA RI) Nomor. 371/Pid/2021/PT MDN, terkait kasus penggelapan dan penipuan yang dilakukan PW, salah seorang warga Nias Selatan.

Diketahui bahwa dalam putusan Mahkamah Agung tertanggal 22 Maret Tahun 2021 atas Banding JPU, dimana terdakwa PW divonis 3 (tiga bulan) penjara, namun hingga saat ini pihak Kejari Gunung Sitoli diduga kuat belum mengeksekusi putusan tersebut atau diduga kuat belum melakukan penahanan terhadap yang bersangkutan. Padahal, sudah 1 tahun lebih putusan MA itu keluar.

ads

Anehnya, pihak Kejari Gunung Sitoli terkesan tertutup terhadap wartawan, dimana tidak mau memberi penjelasan saat dikonfirmasi.

Buktinya, Kajari Gunung Sitoli, Damha saat dikonfirmasi di Kantornya, Jalan Sukarno, No.9A, Saombo, Gunung Sitoli, Provinsi Sumatera Utara, Selasa (12/7/2022), secara lisan ia langsung mengarahkan wartawan kepada Kasi Pidum, sambil menunjuk salah seorang staf kejaksaan untuk mengantarkan wartawan kepada Kasi Pidum.

Usai itu, wartawan disuruh oleh staf kejaksaan untuk menunggu di ruang tunggu depan pintu Kasi Pidum. Namun, Kasi Pidum Kejari Gunung Sitoli tak kunjung tiba. Informasi dari salah seorang staf saat ditanya keberadaan Kasi Pidum sambil menelpon mengungkapkan bahwa, Kasi Pidum sudah keluar sebentar, mohon ditunggu.

Ditunggu sekitar 30 menit, Kasi Pidum tak kunjung datang. Lalu, sekira sejam lebih, wartawan kembali mempertanyakan kepada staf kejaksaan tentang keberadaan Kasi Pidum, tak lama kemudian Kasi Pidum keluar dari ruangannya dan langsung menghampiri wartawan.

“Bapak salah kenapa di Pidum, seharusnya dikonfirmasi kepada Kasi Intel, ini bukan bidang saya, dan saya tidak bisa memberikan keterangan,” elak Agus Salim Harahap.

Sekalipun telah disampaikan bahwa Kajari yang mengarahkan wartawan untuk mau konfirmasi kepadanya, tetapi ia tetap mengelak dengan mengucapkan kata ‘salah prosedur’. (Suasana H)